Seminar dan Workshop “Penulisan Artikel Ilmiah Menggunakan LATEX

Menembus publikasi ilmiah bertaraf internasional merupakan prestasi yang dikejar oleh para akademisi. Selain berdampak positif pada institusi, publikasi yang terbit dalam jurnal yang kredibel secara internasional juga berdampak baik pada penulisnya. Namun, saat ini, tidak sedikit jurnal ilmiah yang hanya akan menerima publikasi bila ditulis dengan menggunakan aplikasi Latex. Apa itu aplikasi Latex ? Latex adalah aplikasi perangkat lunak untuk mengolah dokumen.
Ini disadari oleh FTKI Universitas Nasional, “Setiap jurnal-jurnal yang berstandar scopus kaya q1, q2, q3, q4 itu mereka kualitasnya tuh lebih mengunggulkan latex”, jelas Dr. Fauziah, S.Kom., MMSI. Berangkat dari sini, pada 29 Januari 2020 ICT – Research Center Universitas Nasional mengadakan workshop dan seminar bertema penulisan ilmiah dengan menggunakan latex. “Reseracher dan saintis itu penulisannya di internasional menggunakan latex,”ujar Dr. Robby Kurniawan Harahap, S.Kom., MT – narasumber.

Target pada workshop ini adalah peserta memahami implementasi kaidah penulisan ilmiah dan mampu menulis artikel ilmiah dengan menggunakan template yang sudah ada. Pada awalnya, ketika peserta workshop akan memulai menggunakan Latex cenderung panik “Eh ini ngga bisa jalan, error, ini gimana.” Ujar Nurhayati, S.Si., MTI, Ka.Prodi Teknik Informasi Universitas Nasional yang merupakan peserta workshop ketika diwawancarai. Selain kepanikan, Dr. Robby juga menilai ada kesalahpahaman penggunaan latex, yakni beranggapan bahwa skrip harus ditulis ulang padahal cukup mengikuti template yang telah ada, “kendalanya para dosen-dosen ini adalah beranggapan bahwa menulisnya dari awal, padahal kita sudah disediakan template.” Dr.Robby.

Ketika diwawancarai, Dr. Robby kembali menggambarkan seperti apa penggunaan latex di kalangan akademisi internasional. Ia menyebutkan bahwa ketika bekerjasama dengan peneliti asal Prancis, baik di laboratorium maupun bukan seluruh artikel ilmiah wajib ditulis melalui aplikasi latex. Sementara di Jepang pun juga demikian, “Penulisan jurnal di Jepang itu ada yang hanya menerima latex, walaupun yang kita kirimkan itu PDF tapi mereka syaratnya kalau sudah diterima harus dalam bentuk latex source,” tambahnya.

“Berguna sekali, Jadi dari pertama dijelaskan mulai dari instalasi dan apa saja yang harus disiapkan serta tips dan trik nya. Bahkan dikasih contohnya dan bisa coba (simulasikan),” Ucap Nurhayati ketika dimintai komentar tentang manfaat acara ini. (RIZ)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.